Dulu pas umur 10 tahun kebelet bgt masuk aksel, tapi gak bisa dan malah masuk bilingual.

Baru beberapa bulan di kelas bilingual, gue sadar bahasa inggris gue jelek bgt khususnya grammar, gue bahkan gaktau tenses apaan, mau bilang pasport malah password 😭😭. Akhirnya pulang2 nangis, terus ortu masukin gue les di tbi. Alhamdullilah, setelah itu b.ing lebih baik.

Dulu pas umur 12 tahun gue against bokap nikah lg(Nyokap kandung gue meninggal pas gue umur 2–3 tahun). Gak suka aja, kenapa harus ada yang berubah, waktu itu merasa nyaman banget dengan segalanya, dan gak mau aja ngerasa aneh kalo ada yang berubah.

Sekarang gue mikirnya, gila dah. Kalo gak ada nyokap baru gue sekarang, gue bakal jadi apa, pasti hancur bgt. I wouldn’t know how to love, how to emphatize, nor how to forgive. Instead thinking of getting mba (master of business administration) I’d probably mba (married by accident). Bddmm tss… 🙄

Dulu pas tahun akhir SMA pengen banget masuk ui dan lebih spesifiknya masuk jurusan industri, eh malah masuk undeep dan jurusan teknik komputer.

Tapi kalo gue gak jd mahasiswa undip, gue yakin jiwa individualis gue pasti masih menjulang sampe langit ketujuh. Disini banyak belajar utk lebih considerate ke orang lain, belajar pertemanan bukanlah sebuah transaksi, belajar untuk low profile dan gak kemakan gengsi (I realized that if you have money, you don’t need to prove to anyone that you have money by buying things you don’t need, di smg banyak yg berduwit tp kaya tidak berduwit dan apparently hidupnya oke2 aja), belajar untuk peduli dan jadi aware banyak orang yang tidak seberuntung gue.

Dari kecil gue emang bercita2 pengen keliling dunia, gak nyangka di undip berkesempatan utk dtg ke 4 negara (malaysia, ukraina, thailand, turki) buat lomba atau volunteer, dan di perjalanan2 itu gue seenggaknya dapet half-funded dr undip atau sponsorship. Kurang lebih gue dpt 200 juti in total dari undip + sponsorship perusahaaan2. Dan gue kulik2, ternyata gak semua universitas sedermawan itu ke mahasiswanya yg ikut lomba/jd delegasi.

Gue mikirnya dulu kalopun jalan2 ke luar negeri pasti pure utk liburan. Karena gue berkesempatan utk volunteer/lomba yg dimana gue setidaknya harus berhubungan dgn org lokal, gue sadar ini yg ngebuat perjalanan lebih bermakna. Saran gue bagi yg mau jalan2 khususnya ke luar negeri, coba deh luangin waktu utk berinteraksi sama org lokal dan mempelajari budaya dan sejarahnya, soalnya sensasinya beda bgt asli dah, daripada cuma putu2 dan belanja.

Well, lanjut. Karena keresahan tidak bisa berbahasa inggris waktu smp gue jd lumayan bisa bahasa inggris, dr situ gue dipercayai ngajar C1 English Level (Level tertinggi yg disediakan organizer pd saat itu)di ukraina, dan shockingly murid gue dosen dong.😱 Awalnya takut abis, soalnya gue emg sadar inggris gue gak sejago itu. Pengennya ngajar anak kecil aja biar gue lebih berempati lah, bahkan uda ngajuin ke organizernya waktu itu tapi ditolak. Alhamdulillah terbantu banget si soalnya partner ngajar gue baik dan helpful bgt, doi native dari singapore. Dan di kelas itu juga gue dapetin banyak petuah2 atau nasehat hidup dari murid2 gue yg uda umur 30an keatas disana, terutama tentang calon teman hidup, pernikahan, anak, dan berkeluarga.

You know, it took time for me to decide telling you this story. Takut aja sih gue malah jadi memberi kesan sombong, atau proud, atau bahkan gue takut kalau orang gak benar-benar mengambil point apa yang sebenernya ingin gue sampaikan. But please don’t think it that way. I also consider myself as a very private person and I hate knowing people know too much about me, tapi kayaknya lebih bagus utk sharing, kali aja berguna.

The point I’m trying to say is that.. Kita semua punya perjuangan dan cerita masing2 ya. Enggak jarang juga kita merasa disalahpahami/dizolimi/disakiti padahal kita sudah seberjuang itu, dan mungkin terkadang terbersit pikiran hidup tidak adil. Mungkin memang tidak adil, tapi sayangnya kita gak bisa ngubah itu jadi adil kan, yang bisa kita rubah ya cara pandang dan reaksi kita. Kita mungkin sekarang gak bisa mengambil hikmah atas kegagalan/musibah yang kita alami, mungkin butuh waktu 10 tahun atau lebih untuk mengerti the wisdom behind it.

Kalo gue gak mengalami kegagalan pertama gue dengan gak bisa lolos aksel, gue gak akan merasakan keurgensian untuk belajar bahasa inggris yang dimana gue ngerasa skill ini ngebuka banyak opportunity buat gue ke depannya. Kalo gue gak ngambil IT, gue mungkin gak punya kesempatan utk kerja wherever and whenever I want sambil traveling, I didn’t know then ternyata IT se-”demanding” itu jaman skrg.

Try to have faith that God knows what’s best for you because you don’t know what God knows. Selama lo yakin lo uda menjalani hidup ini lurus2 aja, dgn berusaha selalu tetap jujur, original, tidak sombong, bekerja keras dan rajin menabung. Percayalah, pasti endingnya bakal bagus. Hidup tidak statis, gagal atau sedih sekarang bukan berarti tidak bisa sukses/bahagia di masa depan.

If you feel that you are in a difficult situation right now, try to contemplate or reflect your life and what kind of person you are now. Ask yourself are you happy or proud with what you’ve become? Personally, kalo gue merasa down karena sesuatu, gue menganggap itu sebagai peringatan sih dr Tuhan, supaya gue gak congkak2 amat atau supaya gue bisa intropeksi diri dan eventually become a better person. Kalo kata Rumi, sometimes the cold and dark of a cave give the opening of we want.

*tulisan ini bukan berarti untuk menggurui, tulisan juga sebagai pengingat untuk penulis. peace.❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: