Pemahaman kita akan sesuatu pasti didasari oleh pengalaman kita selama hidup seperti pengaruh lingkungan kita, seperti apa keluarga kita, dimana kita dilahirkan dan dibesarkan, seperti apa pengajaran tentang sebuah teori di sekolah kita, bahkan kemampuan otak, genetik dan lain sebagainya.

Dari sini dapat simpulkan, setiap orang pasti memiliki pemahaman yang berbeda-beda karena tidak mungkin kita memiliki pengalaman yang sama. Teori tentang perbedaan ini bukanlah hal yang baru, dan sebagian orang pasti pernah mendengar.

Di dunia yang ideal, kita yang memahami perbedaan ini seharusnya menjadi lebih rendah hati karena kita pasti sadar atas pemahaman yang kita miliki masih sangat terbatas, dan alam semesta yang sangat besar ini tidak cukup dipahami dengan pengalaman kita yang ibarat hanya sebuah titik di lautan. Dan di dunia yang ideal juga, harusnya inilah yang menjadi alasan kita untuk selalu belajar dan memahami satu sama lain.

Sayangnya kita tidak hidup di dunia yang ideal. Salah satunya dalam konteks pemahaman agama, ketika hati berkomentar ataupun dengan terbuka mengkritiki perilaku orang lain atau pemahaman orang lain yang menurut kita tidak sesuai dengan “pemahaman” yang kita tahu, dan seolah-olah membuat kita adalah Tuhan dari agama kita sendiri, “Anda akan dosa, saya tidak.”.

Di benak saya pun terbersit,

Apakah tindakan ini termasuk penghinaan yang saya lakukan terhadap Tuhan? Menghakimi orang lain sebelum Tuhan memutuskan?

Agama yang awalnya dipercayai orang-orang untuk memahami ketidakpastian dunia atau bagi beberapa orang untuk “mengatasi” kegelisahan atas ketidakpastian dunia mereka, sekarang menjadi alat bagi beberapa individu ataupun kelompok untuk menunjuk akibat yang dianggap “pasti” atau mutlak atas keputusan hidup orang lain.

Alasan kita untuk menghakimi orang lain pun masih menjadi misteri. Apakah itu salah satu pembuktian kepada diri kita sendiri bahwa kita beriman ataupun lebih beriman? Jujur, saya tidak tahu.

Mungkin beberapa pembaca mengambil kesimpulan bahwa penulis mendukung paham liberal yang identik dengan kebebasan dan pembebasan, dengan jargon-jargon favorit “Biarkan saja they do what they do, bukan urusan kita” atau “Kita ini punya kehidupan masing-masing, dosa masing-masing” atau “Kita aja belum bener, mending gak usah komen”. Padahal jargon tersebut menurut penulis terkadang terlalu berlebihan digunakan, terkesan semata-mata hanya untuk menghindari konflik, menghindari rasa tidak nyaman, dan yang nantinya malah membuat kita hidup individualis.

Saya percaya kita sebagai manusia harus selalu mengingatkan satu sama lain. Hal ini saya percayai karena pemahaman saya atas perbedaan pengalaman hidup yang kita bawa, yang membawa saya berpikir bahwa kita sebagai manusia memiliki keunggulan, kelemahan masing-masing, dan walaupun kita punya pemikiran dan keinginan yang baik, entah kenapa kita tidak luput dengan kesalahan dan sering lupa. Atas dasar ketidaksempurnaan inilah, menurut saya wajar untuk kita saling mengingatkan satu sama lain walaupun kita sendiri belum sempurna, dan kita semua memang tidak akan pernah sempurna. Tapi kembali lagi, cara mengingatkannya pun harus yang benar dan niatnya pun harus yang baik.

Tulisan ini harapannya dapat mengingatkan kita untuk lebih bijak dalam mengkritik atau berkomentar. Dimulai dengan mencoba memahami keputusan seseorang, dan percaya bahwa sebenarnya untuk memahami keputusan orang lain yang kita anggap salah seharusnya bukanlah termasuk bentuk kompromi atas keyakinan atau kepercayaan kita. Dan juga bertanya dengan diri sendiri, “Apakah saya bersuara hanya untuk memuaskan ego saya?”, “ Apakah saya benar-benar peduli dengan orang yang saya nasehati?”. Selain itu juga mencoba untuk memulai dengan menasehati secara elegan, seperti melakukannya face-to-face tanpa orang lain, memilih perkataan yang lembut, berbicara dengan menggunakan hati dan lain sebagainya.

3 Comments on “Catatan Reflektif tentang Penghakiman

  1. Pingback: Catatan Reflektif tentang Penghakiman – Blogger Perempuan

  2. Kalo aku tipenya lebih baik diam dan tidak mau menasehati apapun kepada siapapun mau itu di sosmed/real life terkecuali adik”ku baru aku berani hehe

    Like

Leave a Reply to Mayuf Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: