It took me about almost 22 years to finally have a deep thought regarding this topic.

Akhir tahun 2019 gue lagi sibuk-sibuknya sama skripsi. Suatu saat pas kepala gue lagi uring-uringnya, nyokap nanya sesuatu hal ke gue yang gue lupa itu apaan, tapi pertanyaannya seinget gue cuma pertanyaan sesepele “Adek udah makan?”, tapi gue inget pertanyaan nyokap gue bales dengan bentakan dan rasa kesel. Waktu itu nyokap diem aja, dan gue lanjut fokus dengan skripsi gue.

Lalu beberapa minggu kemudian, akhirnya gue udah sarjana. Akhirnya juga mood gue udah baik. Bokap manggil gue, terus kira-kira bilang gini, “Dek, coba kau ubah dulu cara kau ngontrol emosi, bisa-bisanya kau jawab ibu kayak kemaren”. Gue langsung tersentak. Damn, I shouldn’t have done that. Langsung bermunculan 1001 kilas balik dimana gue sering bersikap kasar ke nyokap atau ke orang lain yang gue treasure atau sayang tanpa sebab, apalagi pas-pas mau datang bulan. It’s just unfair.

Bokap termasuk jarang banget nasehatin gue, mungkin gara-gara gue udah mulai gede, kesilapan gue akan lebih sulit untuk ditoleransi.

Walaupun udah minta maap ke nyokap, dan nyokap pun membalesnya dengan candaan “Udah biasa mah”. Jujur, rasa bersalahnya sampe sekarang. Rasanya pengen banget menarik kata-kata yang gue sadari atau tidak sadari menyakiti hati orang lain, apalagi nyokap sendiri.

Being raised by my mom is the greatest gift God has given to me. Bagi gue, my mom is a walking miracle. Logikanya kalau kita merasa sesuatu berharga, seharusnya bakal kita sikapi dengan baik-baik kan ya. Sesederhana kayak abang gue dulu pas SMP punya sepatu baru terus sepatunya diajak tidur.

Hal ini membuat gue mikir ke hal yang lebih dalem. Gue sadari, entah kenapa kita sebagai manusia cenderung lebih suka mengekpresikan kebencian atau kemarahan, dan lebih parahnya kepada orang yang sebenernya kita treasure, yang selalu kita datengin pas kita susah dan bahkan yang selalu ada pas kita susah.

Gak heran kalau jaman sekarang lebih banyak manusia yang merasa tidak dicintai, alasannya mungkin salah satunya karena kecenderungan kita yang tanpa sadar selalu bersuara akan kebencian atau kemarahan bahkan ke orang yang kita sayangi atau orang yang gak salah apa-apa.

Gue lanjut berpikir,

Kita sadar kan ya, orang yang bener-bener berarti dan memang bener-bener peduli sama kita sebenernya bisa dihitung jari. Tapi kenapa kita lebih memilih untuk mengeluh seharian karena orang yang kita benci yang gak penting buat hidup kita atau masalah yang nantinya juga pergi, dibandingkan untuk menikmati momen sama orang yang selalu membantu kita dan kita juga gak tau umurnya sampe kapan?

Terus lanjut lagi berpikir,

Kalau orang lain yang kita benci pantas kita umpat 1000 kali, seharusnya orang yang kita sayang juga pantas kita syukuri 1000 kali, bahkan setidaknya kita syukuri 1001 kali.

Gue selalu penasaran dengan why we do what we do, atau why we think what we think, makanya gue kadang-kadang baca buku yang terkait psikologi. Pada saat mikir keras tentang hal ini, gue kebetulan lagi baca Thinking Fast and Slow by Daniel Kahnem. Disitu doi mentioned, “Our brains are not designed to reward generosity as reliably as they punish meanness” yang artinya “Otak kita tidak dirancang untuk menghargai kebaikan seadil kita mencela kejahatan”.

Gue simpulkan, kita sebagai manusia memang dirancang lebih tertarik terhadap negativity dibanding positivity, dan hal ini sangat tidak kita sadari, karena kita sebagai manusia selalu percaya kita sedang melakukan hal yang baik, dan kita selalu menginginkan hal yang baik. Gue percaya kok, gak ada orang yang bangun dari tidurnya terus berpikir, “Hari ini mau jadi anak durhaka, ah.” atau “Hari ini mau menghina 10 orang, ah”.

Menurut gue sekitar 80% “kejahatan” di dunia ini sebenernya dilakukan tanpa sadar, entah karena emang otak kita yang gak nyampe atau kita yang dikendalikan sama emosi kita. Tentunya untuk overcome this problem kita perlu yang namanya pengendalian emosi ya, mungkin emosinya bakal tetap ada tapi yang membedakan adalah bagaimana kita bereaksi akan emosi tersebut. Entah kita perlu mengasingkan diri dulu supaya emosi kita reda atau mungkin banyak cara lainnya. Dan menurut gue belajar pengendalian emosi adalah proses seumur hidup juga, sama seperti pendewasaan, jadi ya butuh waktu, dan tingkatan levelnya pasti naik seiring permasalahan kita.

Untuk sadar kita sayang sama seseorang sebenernya gak cukup. Bukan berarti sayang ke seseorang, cara kita menyayanginya sudah benar. Kita gak bisa marah gak jelas, mengumpat kemana-mana, dan berharap orang akan mengerti. That’s just not right.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: