Kemaren seharian gue end up nonton video-video “kupas” dan review parasite yang ngejelasin makna lebih dalem tentang film ini. Ternyata banyak hidden messages di setiap scene-nya, pesan yang emang pengen disampain Bong Joon-Ho (Sutradara sekaligus screen writer) atau pesan yg diopinikan sama penonton yang gue temuin dari forum-forum, youtube, dan sebagainya.

Film parasite ngebuka pikiran gue banget sih. Disini gue bakal share “kupasan” dari opini gue sendiri, dan apa yang gue dapatin dari internet, mungkin lo bakal nemuin makna yang lebih profound.

Hal paling jelas digambarkan di film ini adalah kesenjangan sosial (Gap antara The Rich dan The Poor). Gue tau topik ini sangat sensitif dan tabu untuk dibahas, apalagi di Asia, seenggaknya di Indonesia lah. Entah karena menimbulkan “ketidaknyamanan” bagi yang udah hidup nyaman, atau minimbulkan kesan “sebelah mata” bagi yang belum hidup nyaman.

Tapi bukan berarti kan ketidaknyamanan untuk dibahas menghilangkan kepentingan untuk membahas.

Parasite is one of my favorite movie of all time (Gue udah nonton 3 kali di bioskop sis, dan 1 kali lewat viu). Alasannya, film ini dapat menyampaikan secara gak lebay, bahwa dunia ini abu2, tidak hitam putih. Gak kayak film kebanyakan yang menggambarkan The Rich pasti jahat dan The Poor pasti baik, atau kebalikannya. Film ini dapat menggambarkan realita kehidupan sebenernya, gak ada “kebaikan” ataupun “kejahatan” yang mutlak, kecuali lo Iblis, atau Tuhan. 

Setelah nonton ini entah kenapa rasanya campur aduk, entah karena terlalu realistis dalam menggambarkan kesenjangan sosial, berhasil menyinggung rasa ketidaksyukuran gue, atau terlalu detail dalam menggambarkan sikap atau opini The Rich ke The Poor, atau The Poor ke The Rich.

Dari masalah bau badan, opini The Poor yang bilang “Iya dia baik/ramah soalnya kaya, aku juga akan baik/ramah kalo aku kaya”, ke-“clueless”-an The Rich , dan sebagainya. (Trust me it happens in my real life, at least in my life😅).

Menarik banget menurut gue untuk membahas opini The Poor yang bilang “Iya dia baik/ramah soalnya dia kaya, ….”. InsyaAllah, gue aware kalau privilage seseorang sangat berpengaruh ke keberhasilan orang tersebut. Entah itu privilage akan kekayaan, dukungan keluarga, dikelilingin orang yang baik, sekolah yang bagus, dan lain sebagainya. Gue insyaAllah juga aware, kemiskinan adalah sebuah siklus yang susah dihentikan, dan sangat mempengaruhi mentalitas seseorang.

Ada seseorang yang gue kenal, dia udah punya anak, dan bilang gini ke anaknya, “Nak, kau gak usah berharap jadi kayak sepupu-sepupumu, sekolah tinggi-tinggi, kerja bagus-bagus. Kita orang susah, gak akan bisa kayak gitu”.

Tapi jujur gue pribadi sedih banget sih ketika orang bilang gini. Hidup gak linear kan ya, ibaratnya kayak roda. Mungkin keadaan sekarang misqueen, mungkin keadaan sekarang kaya, mungkin sekarang bahagia, mungkin besok rasanya kayak pengen meninggal. Kayak siklus. Kalau memang apapun yang kita lakukan gak akan bisa ngerubah keadaan kita gara-gara situasi kita yang emang lebih kurang, then what’s the freaking point of waking up every morning? Mungkin karena takut masuk neraka, cak.. Iya ya, bener juga..

Sebenernya mindset yang mirip-mirip kayak gini bukan hanya ada di The Poor sih. Ini sebenernya juga terjadi ke siapapun yang merasa dirinya diremehin, dan akhirnya ngebuat cacian/omongan orang lain menjadi kenyataan. Lebih parahnya kalo yang bilang gini saudara atau tetangga sendiri, yang dimana kita gak akan bisa benar-benar menjauh dari mereka.

Padahal kita tahu kita masih muda, dan kita tahu orang-orang yang bilang gitu bukan Tuhan. Tapi kita percaya kata mereka melebihi kita percaya kepada kemurahan hati Tuhan. Sedih? Gue juga.

Terkait soal The Poor yang sukses ya. Dulu ortu sering mengelu-elukan soal si A atau si B yang ceritanya adalah orang susah dan sekarang udah jadi orang. Nyokap bokap bilang gini “Hebat nih dek dari bawah tapi bisa sukses… Bla bla bla”. Jujur, dulu gak bisa relate sih.

Tapi sekarang sadar banget gue kenapa mereka hebat. Soalnya mereka punya grit mentality. Bukan berarti mereka gak pernah gagal, bukan berarti mereka punya kemampuan yang lebih tinggi dari orang lain. But they’ve succedeed in overcoming their fear and the shame of failure during the journey. Grit Mentality gak mengenal lo dari keluarga mana, tingkatan ekonomi lo kayak gimana, atau tingkat inteligensi lo gimana.

Anyway balik ke Parasite 😅.

Analisis Film Parasite Lebih Detail

Analisis ini sumbernya adalah opini pribadi, opini Bong Joon-ho sendiri, dan opini penonton lain yang gue nemu di internet. Untuk catatan, keluarga Kim adalah representasi The Poor, keluarga Park adalah representasi The Rich.

Di film ini, ketinggian letak rumah ternyata dijadikan sebagai representasi kelas. Semakin tinggi letak rumahnya semakin bagus ekonomi si tokoh. Dan kelas yang terendah disini adalah suami pembantu lama yang udah tinggal di basement selama lebih dari 4 tahun, gara-gara kabur dari rentenir.

Yang menarik lagi adalah ternyata scene yg menurut gue paling epic cinematografinya, yaitu pas lagi hujan besar dan banjir, adalah cara sutradara menyinggung krisis iklim, dan juga menyampaikan ironi.

Ironinya adalah, padahal keluarga Kim hidupnya bisa dibilang paling ramah lingkungan, kemana-mana jalan kaki, makan makanan sisa, punya kekayaan materi yang sedikit, baju itu-itu aja bahkan uda kekecilan dan kendor-kendor, sedangkan keluarga Park rumahnya gede, mobil mahal, baju banyak, yang artinya membutuhkan energi yang besar. Tapi yang paling terkena dampaknya adalah Keluarga Kim, yang rumahnya rusak dan terendam banjir, sedangkan yang kaya dampaknya cuma gagal camping aja. 

Selain gara-gara krisis iklim juga, banjirnya disebabkan gara-gara rumah keluarga Park yang letaknya ketinggian (Orang kalo punya duwit logikanya akan membuat rumahnya semakin tinggi, untuk menghindari banjir), jadi mau gak mau banjirnya malah ngalir ke rumah orang yang lebih rendah.

Sifat clueless dan ignorant menurut gue paling digambarin sama ibu keluarga Park. Sehari setelah selesai hujan besar, ibu keluarga ini ngomong ditelpon sama temennya di mobil, pas lagi ada bapak keluarga Kim (yang dipekerjakan sebagai supir). Dan bilang “Hujan kemaren itu anugerah dari Tuhan, udara hari ini jadi bersih tanpa polusi”. Terus bapak Kim keliatan banget gondok abis😅. 

Ke”clueless”annya juga dibuktikan dengan dia yang gak tau pekerjaan rumah, gak tau ada barang-barang apa aja di rumah, dan gaktau kalau ada bunker tersembunyi dibawah rumah padahal hampir 100% kegiatannya ada dirumah.

Ada scene dimana anak laki-laki keluarga Park, sudah bisa mengartikan kode morse lampu, yang pesannya minta pertolongan, tapi doi malah cuek aja walopun udah paham. Ini kayak analogi utk  orang secara umum bukan hanya The Rich yang memilih untuk abai, tapi anak muda juga, soalnya males kali, repot, tar harus keluar dari zona nyaman. Kalo lapor ke ortunya, harus keluar dari tendanya, dan tar keujanan malah buat diri basah dan gak nyaman.

Filmnya bener-bener kayak cerminan poster ini. Keluarga ini sebenernya sama tapi berbeda, gimana tuh ya? 😅. 

Kedua anak perempuannya sama-sama gak cocok di keluarganya masing-masing. Anak perempuan keluarga Park, gak cocok sama keluarganya yang kaya, sesederhana gak ngerasain bau seperti yang dirasain adek dan orang tuanya. Sedangkan anak perempuan keluarga Kim, cocok sama keluarga kaya, soalnya bisa pura-pura pinter dan artsy kayak anak laki-laki keluarga Park. 

Dua keluarga “utuh” karena cara yang berbeda. Keluarga Dong dengan kekayaannya, tapi si bapak udah jelas gak cinta lagi sama si ibu, dan mempertahankan pernikahannya hanya untuk image dan status, selain itu juga anak-anaknya gak akur. Ini bukti bahwa Money can’t buy love. Sedangkan keluarga Kim walopun gak punya uang, tapi saling menguatkan satu sama lain. When you don’t have money, love is all you got.

Ini juga opini yang gue dapetin dari internet. Ironis banget ketika ibu keluarga Kim gak mau menyamakan statusnya sama pembantu lama. Padahal dia juga udah pernah susah, dia juga infiltrasi dan nipu keluarga orang, kalo dia berempati dan gak rakus aja, dengan sadar bahwa mereka on the same boat dan cuma bilang “iya gue kasi makan tar lakik lu”, endingnya diakhir mungkin akan berbeda. Soal tingkatan ekonomi, mau tingkatannya rendah atau tinggi, gak akan ada yang mau diremehkan.

Dibagian akhir, lebih tepatnya di bagian kredit, bakal ada lagu yang judulnya Soju One Glass. Soju One Glass adalah ciptaan Bong Joon-ho, dan dinyanyinkan sama anak laki-laki keluarga Kim, yang diperankan sama Choi Woo-Shik.

Soju One Glass seharusnya berjudul 564 years. Bong Joon-ho sudah mengkalkulasikan ternyata butuh 564 tahun bagi anak laki-laki keluarga Kim untuk menabung, dan akhirnya membeli rumah tersebut untuk membebaskan bapaknya.

Soju One Glass sebenernya adalah ekpresi dari ketakutan Bong Joon-ho. Bahwa isu yang dia kritiki di film ini tidak akan selesai bahkan sampai 564 tahun, melebih umur generasi anak Bong Joon-ho sendiri.

Gue akui gue termasuk sangat lebay dalam bilang ke orang-orang gue suka banget sama Parasite. Soalnya Bong Joon-ho, yaitu sutradara dan penulis naskah Parasite memang idaman gue banget dari tahun 2012. Saat dimana gue lagi gila-gilanya sama film yang emang beneran bagus, dan gue lumayan agak paham tentang kenapa suatu scene dan suatu dialog itu indah ataupun powerful.

Awal kenal Bong Joon-ho, dari nonton filmnya Memories of Murder(2003). Disitu gaktau kenapa suka banget sama ini sutradara, dibandingkan dengan sutradara film-film lain. Guepun berlanjut nonton filmnya yang lain dan selalu menantikan karya dia selanjutnya, contohnya kayak Mother (2009), Snowpiercer (2013), Okja (2017), dan The Host (2006). Awalnya gue skeptis sama yang The Host, soalnya udah keburu mindset film tentang monster-monsteran pasti gitu-gitu aja. Ternyata setelah nonton, kesuudzonan gue salah.

Gue ngenal entertainment Korea Selatan dari tahun 2009, dari Boys over flower, dari yang paling yang kenal korea cuma cewe-cewe yang suka orang ganteng 😅. Jadi, fascinating aja sih ngeliat bagaimana korea selatan bisa seterkenal ini, dan kreativitasnya udah bisa menandingi US. Entah kenapa gue ikutan bangga, apalagi sama-sama dari Asia.

Di Academy Awards, piala oscarsnya diborong Parasite. Dan menurut gue tahun 2020 ini dipenuhin sama film-film yang emang berkualitas dan beresensi. Film 1917 yang cinematografinya gila abis, film Joker yang keseluruhannya juga bagus, One Upon A Time, Little Women, etc. Gimana gak bahagia Bong Joon-honya 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: